Pontianak, Penakalbar.com – Gubernur Kalimantan Barat, Drs. H. Ria Norsan, M.M.,M.H., menghadiri acara Halal Bihalal sekaligus Pelantikan Pengurus Dewan Pimpinan Wilayah Ikatan Keluarga Madura (IKAMA) yang dirangkai dengan Pengukuhan Pengurus IKAMA Kalimantan Barat, yang berlangsung di Pendopo Kalbar, pada Minggu (10/5/2026).
Dalam sambutannya, Gubernur menekankan pentingnya persatuan di tengah keberagaman etnis yang ada di Bumi Khatulistiwa.
Gubernur Ria Norsan sempat berkelakar mengenai hubungannya dengan Wakil Gubernur Kalbar, Krisantus Kurniawan. Ia menyebutkan bahwa perbedaan karakter di antara keduanya justru menjadi kekuatan dalam memimpin Kalimantan Barat.
”Kalau saya ini pembawaannya tidak begitu kalem, beliau sedikit tegas sehingga kami berdua ini cocok. Kalau ada apa-apa, saya diam, Bapak maju dulu sebagai pengumpan peluru,” ujar Ria Norsan.
Gubernur memaparkan, bahwa saat ini terdapat kurang lebih 24 etnis yang hidup berdampingan di Kalimantan Barat. Kehadiran berbagai paguyuban, termasuk IKAMA, diharapkan dapat memperkuat struktur sosial masyarakat.
Ia menegaskan bahwa Kalimantan Barat adalah “rumah besar” yang harus dijaga bersama oleh siapa pun yang tinggal di dalamnya.
“Jadi saya tekankan bahwa siapapun yang tinggal di Kalbar wajib menjaga kondusifitas agar tetap harmonis. Tidak ada suku yang merasa lebih hebat atau lebih tinggi dari yang lain, dan persatuan adalah kunci agar masyarakat tidak mudah disisipi oleh pihak-pihak yang ingin melakukan adu domba atau politik yang memecah belah,” jelasnya.
Menutup sambutannya, Ria Norsan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan setiap persoalan.
“Kalau ada masalah yang besar, mari kita kecilkan. Tapi kalau ada masalah yang kecil, mari kita selesaikan dengan musyawarah dan mufakat, duduk bersama,” timpalnya.
Dalam kesempatan yang sama, Wagub Kalbar, Krisantus Kurniawan, menyampaikan bahwa Kalimantan Barat adalah miniatur Republik Indonesia karena dihuni oleh hampir seluruh suku bangsa yang ada. Ia menegaskan komitmennya bersama Gubernur untuk menjadi “perekat” dan “payung penyejuk” bagi seluruh 24 suku yang tercatat di provinsi tersebut.
”Perbedaan itu indah. Seperti taman yang ditanami berbagai jenis bunga warna-warni, ia akan jauh lebih indah dipandang daripada hanya satu warna saja,” ujar Wagub.
Selain isu persatuan, Wagub juga menyoroti pesatnya perkembangan teknologi informasi. Ia menghimbau masyarakat untuk memiliki kebijaksanaan dan filtrasi dalam menyerap informasi guna menghindari berita palsu (hoax) atau provokasi yang mudah tersebar di dunia digital.
“Saya mengingatkan bahwa pada hakikatnya, seluruh manusia diciptakan oleh Tuhan yang satu dan berasal dari keturunan yang sama,” ujarnya.
Wagub Krisantus memberikan pesan khusus kepada warga Madura di Kalimantan Barat yang jumlahnya diperkirakan mencapai 350.000 – 390.000 jiwa.
”Saya ingatkan kembali, bahwa orang Madura yang hidup di Kalbar adalah warga “Madura Kalimantan Barat”, bukan lagi sekadar warga Pulau Madura. Dan setiap masyarakat diminta menumbuhkan rasa memiliki yang tinggi terhadap Provinsi Kalimantan Barat. Dengan rasa memiliki tersebut, warga Madura diharapkan tidak lagi menjadi pemeran figuran, melainkan menjadi pemeran utama dalam memajukan daerah,” imbuhnya.
Sementara itu, dalam penyampaiannya, Ketua IKAMA Kalbar, Sunandar menekankan pesan yang sangat kuat kepada seluruh anggota, khususnya pemuda Madura. Ia secara tegas melarang penggunaan celurit untuk kegiatan sehari-hari, nongkrong di warung kopi, atau sebagai alat untuk beradu gengsi.
Sebagai gantinya, Sunandar menjelaskan bahwa celurit kini diposisikan murni sebagai senjata adat dan simbol budaya. Sebagai bentuk simbolis dari komitmen perdamaian dan bimbingan lintas etnis, pihak IKAMA menyerahkan celurit tersebut kepada Bapak Krisantus Kurniawan selaku tokoh adat Dayak.
”Mulai hari ini, saya minta dan saya larang kalian membawa celurit yang terselip di pinggang saat berjalan atau bersosialisasi. Kita tidak ingin menciptakan stereotip negatif seolah-olah orang Madura sedang mencari lawan,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Sunandar juga melaporkan pertumbuhan anggota yang sangat signifikan. Hingga saat ini, tercatat hampir 60.000 anggota yang tersebar di seluruh Kalimantan Barat, mulai dari tingkat provinsi hingga ke tingkat desa (ranting).
“Dengan kepengurusan baru ini, IKAMA berharap dapat terus mendapatkan bimbingan dari pemerintah dan ormas lain agar warga Madura dapat terus berkontribusi positif bagi pembangunan di Kalimantan Barat,” tutupnya.
Reporter: Yuwah






