Jakarta, Penakalbar.com– Gubernur Kalimantan Barat, Drs. H. Ria Norsan, M.M., M.H., menghadiri Dialog Nasional yang diselenggarakan Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia dengan tema “Transformasi Pengelolaan Kelapa Sawit Berkelanjutan untuk Kemandirian Pangan”, Kamis (23/4/2026), di Le Meridien Hotel, Jakarta.
Dalam forum tersebut, Gubernur Ria Norsan menegaskan bahwa kelapa sawit merupakan komoditas unggulan Kalimantan Barat yang berperan besar dalam menopang perekonomian daerah dan kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan data Statistik Perkebunan Kalbar Tahun 2024, luas perkebunan kelapa sawit mencapai 2,17 juta hektare, dengan total produksi lebih dari 7,4 juta ton per tahun.
“Sebanyak 284 ribu lebih kepala keluarga menggantungkan hidup pada sektor ini. Karena itu, pengelolaan sawit harus terus dioptimalkan agar memberi manfaat maksimal bagi masyarakat,” ujarnya.
Norsan juga menyoroti pentingnya hilirisasi industri sawit di Kalbar. Saat ini, sebagian besar crude palm oil (CPO) masih diekspor ke negara seperti India dan Tiongkok, sementara pengolahan di daerah masih terbatas.
Selain itu, Gubernur Kalbar menanggapi dinamika penertiban kawasan hutan oleh Satgas PKH yang berdampak pada kebun masyarakat. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah telah berkoordinasi dengan pemerintah pusat agar kebun sawit rakyat, khususnya yang berskala kecil, tetap dapat dikelola.
“Kami telah berdiskusi dengan pemerintah pusat agar kebun masyarakat sekitar dua hektare tetap bisa dimanfaatkan, meskipun berada dalam kawasan hutan,” jelasnya.
Ia menekankan, sektor perkebunan sawit menjadi tumpuan utama masyarakat, terutama di tengah menurunnya harga komoditas lain seperti karet.
Lebih lanjut, Norsan menyampaikan bahwa penguatan tata kelola sawit berkelanjutan, termasuk implementasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), masih menghadapi sejumlah tantangan, khususnya bagi pekebun swadaya.
Untuk itu, diperlukan dukungan berupa akses bibit unggul, pupuk, pendampingan, kemudahan teknologi, serta pembiayaan agar pekebun dapat memenuhi standar keberlanjutan.
“Pendekatan holistik dan kolaboratif sangat diperlukan agar sawit tidak hanya berdaya saing global, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan petani serta memperkuat ketahanan pangan nasional,” pungkasnya.
Dialog Nasional ini menjadi wadah strategis untuk merumuskan kebijakan dan langkah bersama dalam memperkuat tata kelola kelapa sawit berkelanjutan yang inklusif, produktif, dan berdaya saing.
Reporter: Yuwah






