Pontianak, Penakalbar.com– Kepedulian terhadap masyarakat tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Bagi Merah Delima, mahasiswa kebidanan sekaligus Ketua Umum PK IMM dr. Abdul Barry Barasila, kepedulian justru diwujudkan dengan turun langsung ketika masyarakat membutuhkan bantuan.
Saat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi, Merah Delima bersama organisasi yang dipimpinnya ikut mengambil bagian dalam aksi kemanusiaan. Ia tidak hanya menggerakkan anggota untuk membantu, tetapi juga terlibat langsung di lapangan.
Latar belakangnya sebagai mahasiswa kebidanan membuat Merah Delima mengambil peran dalam aspek pelayanan kesehatan. Ia bertugas di Rumah Oksigen untuk membantu memberikan pelayanan kepada masyarakat dan relawan yang terdampak asap karhutla.
Kehadiran Rumah Oksigen menjadi salah satu bagian dari upaya membantu masyarakat menghadapi dampak kesehatan akibat kondisi udara yang memburuk. Di tempat tersebut, Merah Delima turut memastikan masyarakat maupun relawan mendapatkan perhatian kesehatan.
Menurut Merah Delima, ilmu yang diperoleh selama menjalani pendidikan seharusnya tidak hanya berhenti di ruang kuliah. Ketika ada masyarakat yang membutuhkan, kemampuan tersebut dapat diterapkan melalui kegiatan kemanusiaan.
“Sebagai mahasiswa kesehatan, saya berusaha mempergunakan ilmu yang saya miliki untuk dapat memberikan manfaat dan pelayanan kepada masyarakat yang terdampak karhutla,” ujarnya, Rabu (30/9/2026).
Tidak hanya menjalankan tugas sebagai tenaga kesehatan, Merah Delima juga mengajak jajaran komisariat dan anggota PK IMM dr. Abdul Barry Barasila bergerak melalui aksi sosial.
Salah satu bentuknya dilakukan dengan penggalangan dana. Dana yang berhasil dihimpun kemudian digunakan untuk membantu kebutuhan masyarakat terdampak serta mendukung para relawan yang berada di lapangan.
Relawan yang terlibat dalam pemadaman api hingga mereka yang bertugas menjaga Rumah Oksigen turut menjadi bagian dari perhatian dalam aksi tersebut.
Bagi Merah Delima, kegiatan itu menjadi gambaran bahwa mahasiswa dapat mengambil peran di tengah persoalan sosial sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Ia juga melihat organisasi kemahasiswaan bukan hanya menjadi tempat untuk belajar kepemimpinan dan berdiskusi, tetapi dapat menjadi wadah untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
“Bagi saya, kegiatan ini bukan hanya tentang turun ke lapangan, tetapi juga tentang bagaimana ilmu, kepemimpinan, dan kepedulian dapat digunakan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Merah Delima menyebut keterlibatan dalam penanganan dampak karhutla juga memberikan pengalaman tersendiri. Ia dapat melihat secara langsung bagaimana masyarakat dan relawan saling membantu ketika menghadapi kondisi sulit.
Di tengah situasi tersebut, mahasiswa menurutnya tidak harus menunggu memiliki banyak sumber daya untuk berbuat sesuatu. Hal sederhana seperti memberikan pelayanan, menggalang bantuan maupun membantu relawan juga dapat menjadi bentuk kontribusi.
Aksi yang dilakukan Merah Delima bersama anggota IMM tersebut sekaligus mempertemukan tiga hal yang selama ini dijalaninya, yakni pendidikan, organisasi dan kegiatan sosial.
Sebagai mahasiswa kebidanan, ia mengaplikasikan pengetahuan kesehatan. Sebagai Ketua Umum, ia menggerakkan organisasi. Sementara sebagai bagian dari masyarakat, ia memilih hadir membantu mereka yang terdampak karhutla.






