Sambas, Penakalbar.com- Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, S.IP., M.Si., melakukan pelepasan tukik atau anak penyu di Pantai Tanjung Api, Desa Sebubus, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Jumat (21/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kunjungan kerja Wakil Gubernur Kalbar di kawasan perbatasan sekaligus bentuk dukungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat terhadap upaya konservasi penyu yang selama ini dilakukan masyarakat dan relawan di wilayah pesisir Paloh.
Dalam kegiatan itu, Krisantus bersama masyarakat secara simbolis melepas sejumlah tukik menuju laut lepas. Pantai Tanjung Api dikenal sebagai salah satu habitat penting pendaratan dan peneluran penyu di Kalimantan Barat.
“Hari ini kita tidak hanya membangun ekonomi, tetapi juga harus menjaga alam. Pelepasan tukik ini menjadi pesan bahwa kita harus bersama-sama menjaga kelestarian laut dan biota laut, khususnya penyu,” ujar Krisantus.
Apresiasi Relawan Konservasi Penyu
Wagub Kalbar memberikan apresiasi kepada kelompok masyarakat dan relawan yang selama ini konsisten menjaga keberlangsungan populasi penyu, mulai dari perlindungan sarang, penetasan telur, hingga pelepasan tukik ke habitat alaminya.
Menurut Krisantus, pengalaman melepas tukik secara langsung memberikan kesan yang mendalam. Ia mengaku baru pertama kali mengikuti kegiatan tersebut dan memahami bahwa proses pelepasan memiliki tahapan khusus yang bertujuan menjaga naluri alami tukik.
“Ini pengalaman pertama bagi saya melepas penyu. Walaupun jumlahnya tidak banyak, tetapi sangat berkesan. Ternyata ada prosesi khusus, dibuat garis dan tukik dibiarkan berjalan sendiri, tidak boleh diantar. Ini bagian dari proses mereka untuk mulai hidup mandiri,” ungkapnya.
Pernah Pecahkan Rekor MURI
Krisantus mengatakan kawasan Pantai Tanjung Api memiliki nilai konservasi yang sangat tinggi. Selain menjadi lokasi peneluran penyu, kawasan tersebut juga pernah mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk pelepasan tukik terbanyak di Indonesia.
“Ini kawasan konservasi penyu. Penyu banyak sekali bertelur di sini dan bahkan pernah memecahkan rekor MURI pelepasan tukik terbanyak di Indonesia. Ini luar biasa. Saya pikir potensi seperti ini harus terus kita jaga dan lestarikan,” katanya.
Ia menilai keberhasilan konservasi tersebut tidak terlepas dari peran masyarakat, relawan, dan para pegiat lingkungan yang selama ini bekerja menjaga habitat penyu di kawasan pesisir Paloh.
Potensi Besar Ekowisata
Selain memiliki nilai konservasi yang tinggi, Pantai Tanjung Api juga dinilai memiliki daya tarik wisata alam yang besar.
Menurut Krisantus, pengembangan sektor pariwisata di kawasan tersebut harus dilakukan dengan konsep ekowisata yang tetap menempatkan kelestarian lingkungan sebagai prioritas utama.
“Kita berharap pariwisata bisa berjalan seiring dengan konservasi. Jangan sampai semakin banyak pengunjung justru merusak habitat penyu. Karena itu, kawasan ini harus dikelola dengan konsep ekowisata yang tetap mengutamakan kelestarian lingkungan,” tegasnya.
Komitmen Pemprov Kalbar
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, lanjut Krisantus, berkomitmen memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, instansi terkait, kelompok masyarakat, dan pegiat konservasi untuk menjaga keberlangsungan populasi penyu di wilayah pesisir Paloh.
Ia menegaskan perlindungan terhadap satwa langka tersebut merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan program nyata dan berkelanjutan.
“Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan bersama pemerintah provinsi tentu memiliki kewajiban untuk melindungi satwa langka ini. Ketika penyu bisa berkembang dan bertelur di kawasan ini, maka menjadi tanggung jawab kita bersama untuk membuat program yang nyata dalam rangka pelestarian penyu,” pungkasnya.
Melalui upaya konservasi yang berkelanjutan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat berharap populasi penyu di pesisir Paloh tetap terjaga sekaligus mampu mendorong pengembangan wisata alam yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.






