KALIMANTAN BARAT memiliki peluang besar untuk memperkuat swasembada beras. Namun, peluang itu tidak boleh dibaca secara sederhana sebagai urusan membuka sawah baru semata. Dalam konteks Kalbar, swasembada beras adalah soal bagaimana mengelola lahan yang sudah ada secara lebih cerdas, memperbaiki tata air, menjaga lahan dari konversi, serta memastikan surplus produksi benar-benar meningkatkan kesejahteraan petani.

Data terbaru BPS Kalimantan Barat menunjukkan bahwa pada 2025 luas panen padi Kalbar mencapai 260 ribu hektare. Dibanding 2024, luas panen meningkat dari 247 ribu hektare, tetapi produksi padi menurun. Fakta ini memberi pesan penting: memperluas panen saja tidak cukup jika produktivitas tidak ikut naik.

Indeks pertanaman Kalbar masih dinilai rendah oleh instansi pertanian daerah. Dengan demikian, agenda utama Kalbar bukan semata mencetak sawah baru, tetapi meningkatkan intensitas tanam, memperbaiki tata air, dan menaikkan produktivitas lahan eksisting.

Kabupaten Sambas tetap menjadi tulang punggung produksi padi Kalbar. Pada 2025, Sambas mencatat luas panen sekitar 68.000 hektare dengan produksi 205.000 ton GKG (Gabah Kering Giling). Artinya, Sambas menyumbang sekitar seperempat luas panen dan lebih dari seperempat produksi padi Kalbar. Karena itu, perlindungan dan penguatan sentra seperti Sambas menjadi sangat strategis bagi ketahanan pangan provinsi.

Struktur sawah Kalbar juga memberi pesan penting. Sebagian besar sawah di Kalbar bukan sawah irigasi teknis. Bahan kajian yang digunakan menunjukkan bahwa sawah tadah hujan dan pasang surut merupakan bagian dominan dari sumberdaya sawah Kalbar. Artinya, strategi swasembada Kalbar tidak bisa disamakan dengan daerah yang memiliki jaringan irigasi teknis mapan. Kalbar membutuhkan pendekatan spesifik lokasi, terutama untuk sawah tadah hujan, pasang surut, dan lahan suboptimal.

Pada lahan pasang surut, terutama yang berkaitan dengan tanah sulfat masam, tantangannya tidak ringan. Tanah jenis ini umumnya memiliki keasaman tinggi, risiko keracunan besi dan aluminium, serta kesuburan rendah. Tetapi justru disinilah peluang besar Kalbar berada. Dengan tata air yang baik, ameliorasi seperti kapur, bahan organik, kompos, biochar, serta pemupukan adaptif, lahan suboptimal dapat menjadi basis produksi beras yang lebih produktif.

Karena itu, investasi paling mendesak bukan hanya alat mesin pertanian atau perluasan areal, tetapi infrastruktur tata air: saluran, pintu air, drainase, dan kemampuan petani mengatur tinggi muka air. Pada tanah sulfat masam, air bukan sekadar kebutuhan tanaman. Air menentukan reaksi kimia tanah, ketersediaan hara, risiko keracunan logam, dan keberhasilan pemupukan.

Teknologi budidaya juga perlu diarahkan pada paket lengkap, bukan program sepotong-sepotong. Varietas unggul, sistem tanam yang sesuai, pemupukan berbasis status hara, pengelolaan air, pengendalian organisme pengganggu tanaman, hingga panen dan pasca panen harus diperlakukan sebagai satu kesatuan. Keberhasilan peningkatan hasil di lahan pasang surut menunjukkan bahwa produktivitas dapat naik bila teknologi diterapkan secara terpadu, bukan parsial.

Namun, teknologi saja tidak cukup. Kalbar juga harus serius melindungi sawah yang sudah ada. Ancaman konversi lahan pertanian menjadi perkebunan atau penggunaan lain bukan isu kecil. Jika sawah produktif terus berkurang, peningkatan produktivitas akan selalu dikejar oleh kehilangan lahan. Pemerintah daerah perlu memastikan perlindungan lahan pangan bukan hanya tertulis dalam dokumen tata ruang, tetapi benar-benar dijalankan di lapangan.

Swasembada juga tidak boleh berhenti disisi produksi. Petani sering kali tidak menikmati keuntungan yang layak meskipun daerahnya surplus. Bila rantai pemasaran panjang, posisi tawar petani lemah, dan kelembagaan petani tidak kuat, maka surplus produksi tidak otomatis menjadi surplus kesejahteraan. Penguatan kelompok tani, gapoktan, transaksi kolektif, penggilingan lokal, penyimpanan, serta distribusi antardaerah di Kalbar perlu menjadi bagian dari strategi pangan.

Dengan kata lain, membangun swasembada beras berarti membangun ekosistem dari hulu sampai hilir: tanahnya dibenahi, airnya diatur, lahannya dilindungi, teknologinya diperkuat, dan pasarnya diperbaiki.

Kalbar juga perlu berhati-hati dalam mengejar ekstensifikasi atau pencetakan sawah baru. Program perluasan lahan bisa menjadi peluang, tetapi hanya jika memenuhi kelayakan teknis, ekologis, dan sosial. Tanpa perencanaan matang, pencetakan sawah baru berisiko menimbulkan masalah baru: konflik sosial, kerusakan lingkungan, biaya tinggi, atau sawah yang tidak produktif karena salah lokasi.

Karena itu, pilihan paling rasional bagi Kalbar adalah mendahulukan intensifikasi berkelanjutan pada lahan yang sudah ada, terutama sawah tadah hujan dan pasang surut. Ekstensifikasi boleh menjadi opsi, tetapi bukan jalan pintas.

Pada akhirnya, masa depan swasembada beras Kalbar ditentukan oleh tiga kunci: tata air, produktivitas, dan kesejahteraan petani. Data BPS sudah menunjukkan bahwa kenaikan luas panen belum otomatis menaikkan produksi. Maka, pekerjaan besar Kalbar ke depan bukan hanya memperluas areal, tetapi memastikan setiap hektare sawah menghasilkan lebih baik, lebih stabil, dan lebih menguntungkan bagi petani.

 

Penulis: Jaini Fakhrudin, S.P., M.Si.

Dosen Teknologi Pertanian Politeknik Negeri Pontianak

Bagikan: