PONTIANAK – Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menyatakan dukungan terhadap rencana investasi hilirisasi kelapa skala besar melalui pembangunan pabrik pengolahan cocopeat dan berbagai produk turunan kelapa lainnya.
Dukungan tersebut disampaikan dalam audiensi antara Pemprov Kalbar dan PT Indo Agritech Solutions (LYD Bali Group) yang menjajaki peluang pembangunan industri pengolahan kelapa terintegrasi di Kalimantan Barat.
Pertemuan dipimpin Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat, Harisson, bersama jajaran kepala organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, di Ruang Kerja Sekda Kalbar, Kantor Gubernur Kalbar, Selasa, 10 Februari 2026.
Dalam pertemuan itu, pemilik PT Indo Agritech Solutions, Yvann Assiego, didampingi General Manager Christian, memaparkan rencana pembangunan pabrik yang akan memproduksi cocopeat serta produk turunan kelapa untuk kebutuhan pasar ekspor.
Perusahaan menargetkan kapasitas produksi awal sekitar 240 ribu kilogram per bulan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pabrik memerlukan pasokan sabut kelapa dalam jumlah besar. Kalimantan Barat dipilih karena dinilai memiliki potensi kelapa yang melimpah, khususnya di wilayah pesisir seperti Mempawah, Sambas, Bengkayang, dan daerah sekitarnya.
Yvann mengatakan proyek tersebut dirancang sebagai investasi jangka panjang yang tidak semata berorientasi pada keuntungan, tetapi juga pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.
“Kami ingin membangun pabrik di dekat sentra perkebunan kelapa agar rantai pasok lebih efisien. Selama ini, bagian kelapa seperti serabut dan kulit belum dimanfaatkan secara maksimal,” ujar Yvann.
Menurut dia, limbah serabut kelapa dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi, seperti cocopeat, yang memiliki permintaan besar di pasar internasional.
“Indonesia merupakan salah satu produsen kelapa terbesar di dunia. Investasi ini bertujuan meningkatkan nilai tambah komoditas kelapa Indonesia di pasar global,” katanya.
Yvann menambahkan, kehadiran industri pengolahan kelapa di Kalbar diharapkan mampu membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat, termasuk penciptaan lapangan kerja.
“Kami juga berkomitmen membangun kemitraan dengan produsen dan pelaku usaha kelapa lokal untuk memperkuat rantai nilai,” ujarnya.
Menanggapi rencana tersebut, Sekda Kalbar Harisson menyatakan pemerintah daerah menyambut baik investasi yang sejalan dengan kebijakan hilirisasi komoditas unggulan daerah.
“Kami mendukung rencana ini karena sejalan dengan upaya mendorong hilirisasi komoditas unggulan Kalimantan Barat, khususnya kelapa,” kata Harisson.
Ia menegaskan, investasi yang masuk ke Kalbar harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat, baik dalam bentuk lapangan kerja maupun peningkatan pendapatan.
“Investasi yang kami harapkan adalah investasi yang memberi nilai tambah bagi komoditas lokal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Harisson menilai potensi kelapa di Kalbar sangat besar, namun selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, terutama pada bagian serabut dan kulit kelapa.
“Dengan adanya industri pengolahan seperti ini, limbah kelapa justru bisa menjadi sumber ekonomi baru,” katanya.
Ia juga mendorong perusahaan agar melibatkan petani dan pelaku usaha lokal dalam rantai produksi.
“Kami berharap kemitraan dengan masyarakat lokal benar-benar terbangun sehingga manfaat ekonomi bisa dirasakan langsung,” ujar Harisson.
Pemerintah Provinsi Kalbar, kata dia, siap menjalin koordinasi berkelanjutan dengan investor agar rencana pembangunan pabrik pengolahan kelapa tersebut dapat segera direalisasikan.






