SINTANG – Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan, S.IP., M.Si., menghadiri Sidang Sinode VII Gereja Misi Injili Indonesia (GMII) Tahun 2026 yang digelar di Hotel My Home Sintang, Selasa (3/3/2026).

Sidang Sinode tersebut turut dihadiri Bupati Sintang, perwakilan Kanwil Kementerian Agama Provinsi Kalbar, jajaran Kepala OPD di lingkungan Pemprov Kalbar dan Pemkab Sintang, Forkopimda Kabupaten Sintang, para pendeta GMII se-Indonesia, serta perwakilan jemaat GMII. Kegiatan ini mengangkat tema “Gereja Transformatif Melintasi Dinamika Zaman.”

Sebagaimana diketahui, Gereja Misi Injili Indonesia merupakan gereja Protestan di Indonesia yang berakar dari misi pekabaran Injil melalui Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia (YPPII). Gereja ini diresmikan pada 30 November 1984 di Kalimantan Barat. Sebelumnya bernama Gereja Pekabaran Injil Indonesia (GPII), kemudian berdasarkan Persidangan Sinode Khusus pada 6–8 Mei 1993 resmi berganti nama menjadi GMII. Kini, GMII melayani jemaat yang tersebar di 27 provinsi di Indonesia.

Dalam sambutannya, Krisantus menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Sidang Sinode VII GMII di Kabupaten Sintang.

“Saya atas nama pribadi dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat mengucapkan selamat atas terselenggaranya Sidang Sinode VII Tahun 2026. Saya berharap sidang ini melahirkan keputusan-keputusan strategis yang tidak hanya memperkuat organisasi gereja, tetapi juga mempertegas komitmen GMII sebagai mitra pemerintah dalam membangun Kalimantan Barat yang lebih maju, sejahtera, dan bermartabat,” ujarnya.

Ia juga mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada Kabupaten Sintang sebagai tuan rumah agenda nasional tersebut.

“Terima kasih telah mempercayakan Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat, sebagai tuan rumah. Saya berharap sidang ini menghasilkan pemimpin yang mumpuni dan mampu membawa sinode berada di rel yang lebih baik lagi. Saat ini bukan lagi zamannya kereta api uap, melainkan zamannya woosh. Tema transformatif melintasi dinamika zaman memiliki makna luas, dimana gereja harus adaptif, proaktif, inovatif, serta mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat,” harapnya.

Krisantus juga menekankan pentingnya kebijaksanaan dan kejernihan berpikir dalam proses pemilihan Ketua Umum dan jajaran kepengurusan, agar kepemimpinan yang terpilih mampu membawa organisasi beradaptasi dengan tantangan zaman.

Ia menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dalam menjaga harmoni keberagaman.

“Kalimantan Barat terdiri dari 24 suku. Saya tidak ingin terdengar sedikit pun istilah pendatang dan non-pendatang. Dalam pembangunan kemasyarakatan, kerohanian, berbangsa, dan bernegara, yang kita inginkan adalah kebersamaan,” tegasnya.

Lebih lanjut, pria yang pernah menjabat sebagai anggota DPR RI tersebut menambahkan bahwa nilai-nilai gereja sejatinya selaras dengan visi Kalimantan Barat yang religius dan demokratis.

“Gereja mengajarkan kasih, keadilan, penghormatan terhadap martabat manusia, serta musyawarah dalam pengambilan keputusan. Sidang Sinode ini sendiri merupakan praktik demokrasi internal gereja yang patut diapresiasi, dimana keputusan diambil melalui kebersamaan dan hikmat,” pungkasnya.

Bagikan: