SINGKAWANG – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Singkawang menegaskan komitmennya dalam merawat toleransi dan memperkuat pembinaan umat lintas agama di momentum peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama RI, Sabtu (3/1/2026).

Wakil Wali Kota Singkawang, Muhammadin, menilai Kemenag Singkawang telah berperan strategis sebagai perekat kerukunan di kota multikultural tersebut.

Menurutnya, peran Kemenag tidak hanya terbatas pada urusan keagamaan, tetapi juga berkontribusi menjaga harmoni sosial lintas suku dan budaya melalui pendekatan nilai-nilai agama yang inklusif.

“Kementerian Agama Kota Singkawang telah menjadi perekat antar unsur pemerintahan, suku, dan agama. Kehidupan masyarakat Singkawang sangat lekat dengan nilai toleransi yang bersumber dari ajaran agama,” kata Muhammadin saat upacara Hari Amal Bhakti.

Ia menyebutkan, berbagai inovasi yang dijalankan Kemenag Singkawang selama ini terbukti efektif menjaga kebhinekaan dan berdampak langsung pada stabilitas keamanan serta ketertiban masyarakat.

“Inovasi-inovasi itu sangat membantu pemerintah daerah dalam menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif,” katanya.

Selain isu toleransi, Muhammadin juga menyoroti peran Kemenag dalam penguatan pendidikan keagamaan. Ia menilai pendidikan berbasis agama memiliki posisi penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter.

“Di bawah naungan Kemenag terdapat MIN, MTs, dan MAN yang menjadi harapan besar kita. Kecerdasan tanpa akhlak dan adab tidak akan memiliki makna,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Kota Singkawang, Muhlis, mengatakan pihaknya akan terus bersinergi dengan Pemerintah Kota Singkawang dalam merawat toleransi.

Ia menekankan, pembinaan umat dilakukan secara adil dan proporsional sesuai ajaran agama masing-masing tanpa mengistimewakan kelompok tertentu.

“Pembinaan umat kita lakukan sesuai keyakinan masyarakat, tanpa mengkhususkan satu agama. Prinsip inklusivitas ini juga kami terapkan dalam lembaga pendidikan,” kata Muhlis.

Ia menilai perbedaan, baik dalam satu agama maupun antaragama, telah disikapi secara dewasa oleh masyarakat Singkawang. Menurutnya, perbedaan seharusnya menjadi kekuatan, bukan sumber konflik.

“Perbedaan adalah keniscayaan dan takdir Tuhan. Itu harus menjadi kekuatan untuk saling melengkapi demi kemajuan bersama,” ujarnya.

Peringatan HAB ke-80 Kementerian Agama RI tahun ini mengusung tema “Umat Rukun dan Sinergi Indonesia Damai dan Maju”, yang dinilai relevan dengan kondisi sosial Singkawang sebagai kota dengan tingkat toleransi yang tinggi.

Bagikan: