Kuching, Penakalbar.com – Pengurus Daerah Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia Kalimantan Barat (Pengda IJTI Kalbar) memperkenalkan gaya baru bertajuk “Salam Rekat” sebagai simbol pemersatu dan perekat hubungan lintas sektor antara masyarakat Kalimantan Barat, Indonesia, dengan Sarawak, Malaysia.
Gaya khas tersebut diperkenalkan di sela kunjungan ke kantor media penyiaran TV Sarawak (TVS) di Kuching, pada Selasa siang (3/11/2026).
“Gaya menyatukan jari telunjuk dari kedua tangan ini adalah simbol kedekatan, kebersamaan, dan upaya merekatkan hubungan. Sebab sejak dulu hingga sekarang masyarakat kita serumpun sudah saling mengenal, berhubungan sangat baik, dan kerap bersama dalam banyak hal,” terang Perwakilan IJTI Kalbar, Yuniardi, usai lawatan di stasiun TVS.
Agenda bertajuk Journalist Trip Goes to Sarawak yang berlangsung sepanjang 1 hingga 4 November 2026 ini diinisiasi untuk memperkokoh kerja sama jurnalistik dan diplomasi publik di kawasan perbatasan.
Selain menyambangi dapur redaksi TVS, rombongan jurnalis televisi asal Kalbar ini turut melakukan serangkaian kunjungan ke sejumlah titik strategis di Kuching, di antaranya Kantor Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Kuching, Normah Medical Specialist Centre, kampus Universiti Teknologi Mara (UiTM) Cawangan Sarawak, serta jaringan media cetak dan digital terkemuka seperti Suara Sarawak dan Sarawak Tribune.
Kedatangan delegasi jurnalis disambut hangat oleh Konsul Jenderal RI di Kuching, Raden Sigit Witjaksono, yang memfasilitasi rombongan meninjau langsung alur pelayanan publik dan perlindungan WNI di perbatasan.
“Selamat datang di Sarawak. Silakan rekan-rekan jurnalis melihat-lihat langsung bagaimana pelayanan publik dan pendampingan warga kami jalankan di konsulat ini,” sambut Abdullah Zulkifli pada Senin (2/11/2026).
Sementara itu, saat bertandang ke kantor redaksi Suara Sarawak, rombongan disambut langsung oleh Ketua Pegawai Eksekutif (CEO) Suara Sarawak, Dato’ Dr. Jeniri Amir, bersama jajaran manajemen redaksi.
Jeniri menggarisbawahi kuatnya ikatan historis dan emosional antara kedua wilayah serumpun di tanah Borneo yang semestinya terus dijembatani lewat karya jurnalistik yang mendidik dan konstruktif.
“Sarawak dan Kalimantan Barat berbagi tanah Borneo, serta memiliki ikatan sejarah, budaya, dan komunitas yang sangat erat. Meskipun dipisahkan oleh batas administratif negara, kita memiliki banyak cerita, pengalaman, dan aspirasi yang sama untuk disuarakan ke publik,” papar Jeniri Amir.
Menurut Jeniri, sekat perbatasan tidak boleh menjadi penghalang arus kolaborasi. Ia menilai pertukaran gagasan ini menjadi ruang strategis untuk berbagi ilmu, mulai dari teknik produksi siaran televisi modern, konvergensi konten digital, periklanan, hingga strategi penguatan relasi dengan audiens.
“Perbatasan memisahkan wilayah administratif, tetapi jurnalisme dapat mendekatkan komunitas warga. Inilah semangat yang kita harapkan dapat terus diperkuat melalui kerja sama antara insan pers Sarawak dan Kalbar,” tandasnya.





