Mempawah, Penakalbar.com– Kepedulian terhadap persoalan kebencanaan di wilayah Wajok mendorong lahirnya sebuah wadah komunikasi yang mempertemukan masyarakat, pemuda, relawan hingga tokoh masyarakat dalam satu ruang bersama.
Wadah tersebut bernama Forum Komunikasi Tanggap Bencana Wajok, yang didirikan oleh Diko Eno pada 31 Agustus 2026.
Forum ini pada awalnya dibentuk melalui grup WhatsApp sebagai sarana komunikasi dan berbagi informasi mengenai berbagai situasi tanggap bencana yang terjadi di wilayah Desa Wajok dan sekitarnya.
Selain menjadi ruang berbagi informasi, forum tersebut juga menjadi tempat berkumpulnya para relawan dan masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap berbagai misi serta aksi kemanusiaan.
Sebagai pendiri, Diko Eno kemudian menunjuk Hajilid sebagai Ketua Forum Komunikasi Tanggap Bencana Wajok. Penunjukan tersebut diharapkan dapat memperkuat koordinasi dan komunikasi antaranggota dalam menjalankan berbagai kegiatan kemanusiaan di tengah masyarakat.
Diko mengatakan, ke depan forum tersebut tidak hanya berhenti sebagai wadah komunikasi melalui grup WhatsApp. Ia berencana menyusun dan mengembangkan forum tersebut menjadi sebuah organisasi kemasyarakatan yang bergerak dalam bidang tanggap bencana dan kemanusiaan.
Menurutnya, proses tersebut akan dilakukan secara bertahap dengan membangun struktur, memperkuat komunikasi serta merangkul lebih banyak masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap persoalan kebencanaan di Wajok.
“Forum ini kita bentuk sebagai ajang silaturahmi. Di dalamnya ada tokoh masyarakat, tokoh pemuda, relawan dan warga Wajok yang memiliki kepedulian terhadap persoalan kebencanaan,” kata Diko Eno.
Ia menjelaskan, Forum Komunikasi Tanggap Bencana Wajok merupakan salah satu sayap kegiatan kemanusiaan dari Badan Pemadam Api Wajok (BPAW). Kehadiran forum tersebut diharapkan dapat memperluas jaringan komunikasi dan memperkuat penyebaran informasi ketika terjadi bencana maupun kegiatan sosial kemanusiaan di wilayah Wajok.
“Forum ini merupakan sayap dari BPAW. Jadi ketika ada kejadian ataupun kegiatan kerelawanan, BPAW sebagai induk organisasi tetap mengawal dan memastikan misi kemanusiaan dapat berjalan dengan baik,” jelasnya.
Meski berada dalam satu garis koordinasi, Diko menegaskan bahwa Forum Komunikasi Tanggap Bencana Wajok tidak memiliki kewenangan untuk mengintervensi aturan, ketentuan maupun tata kelola internal yang telah ditetapkan dalam organisasi BPAW.
Menurutnya, BPAW tetap menjadi induk organisasi yang memiliki kewenangan dalam mengatur dan mengawal jalannya organisasi serta aktivitas Forum Komunikasi Tanggap Bencana Wajok.
“Forum komunikasi ini tidak boleh mengintervensi aturan dan peraturan yang ada di BPAW. BPAW adalah induknya. Jadi hubungan keduanya harus jelas, saling mendukung dan tidak saling mengambil kewenangan,” tegas Diko.
Ia menambahkan, kebijakan strategis yang menyangkut hubungan kedua organisasi tersebut tetap berada dalam kewenangan pendiri, yakni Diko Eno, sebagai pihak yang mendirikan BPAW maupun Forum Komunikasi Tanggap Bencana Wajok.
“BPAW dan Forum Komunikasi Tanggap Bencana ini sama-sama saya dirikan. Karena itu, saya ingin sejak awal garis koordinasinya jelas. Kita tidak ingin organisasi ini berjalan tumpang tindih, tetapi justru saling menguatkan dalam menjalankan misi kemanusiaan,” katanya.
Diko menjelaskan, pembentukan BPAW dan Forum Komunikasi Tanggap Bencana Wajok merupakan bagian dari upayanya membangun wadah kemasyarakatan di kampung kelahirannya, Desa Wajok Hilir, Kecamatan Jongkat, Kabupaten Mempawah.
Kedua wadah tersebut menjadi organisasi kemasyarakatan pertama yang didirikannya di Desa Wajok Hilir dengan fokus yang berkaitan dengan kepedulian sosial, kebencanaan, kerelawanan dan aksi kemanusiaan.
“Ini kampung kelahiran saya. Saya ingin apa yang bisa saya lakukan untuk masyarakat tidak hanya berhenti pada wacana. Saya ingin ada wadah yang bisa menjadi tempat orang-orang berkumpul, berkomunikasi dan bergerak ketika masyarakat membutuhkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, setiap anggota Forum Komunikasi Tanggap Bencana Wajok diberikan ruang untuk berbagi informasi yang berkaitan dengan situasi kebencanaan, mulai dari kebakaran, kekeringan, banjir, maupun kondisi lain yang membutuhkan perhatian dan respons bersama.
“Tidak harus semuanya turun langsung menjadi relawan. Ada yang mungkin hanya bisa memberikan informasi, menyampaikan kondisi di lapangan, membantu menghubungkan dengan relawan atau memberikan dukungan dalam bentuk lainnya. Semua itu menurut saya bagian dari kepedulian,” ujarnya.
Diko menambahkan, informasi yang disampaikan melalui forum diharapkan dapat menjadi informasi awal bagi masyarakat maupun relawan ketika terjadi suatu kondisi darurat di wilayah Wajok.
Dengan adanya komunikasi yang cepat, kata dia, masyarakat dapat mengetahui situasi di lapangan sekaligus membantu menghubungkan kebutuhan dengan pihak-pihak yang dapat memberikan pertolongan.
“Yang paling penting adalah komunikasi. Ketika ada kejadian, kita bisa saling memberikan informasi. Dari informasi itu kemudian bisa lahir tindakan, apakah membutuhkan relawan, bantuan air bersih, penanganan kebakaran atau bentuk bantuan kemanusiaan lainnya,” jelasnya.
Ia berharap Forum Komunikasi Tanggap Bencana Wajok dapat terus berkembang dan menjadi ruang bersama yang terbuka bagi masyarakat.
“Ini bukan milik saya, bukan milik satu kelompok. Forum ini kita bangun bersama sebagai wadah komunikasi warga Wajok. Siapa pun yang memiliki kepedulian dan ingin berbagi informasi mengenai tanggap bencana, silakan bersama-sama di sini,” katanya.
Diko menegaskan, semangat utama pembentukan kedua wadah tersebut adalah membangun kepedulian sekaligus memperkuat komunikasi masyarakat dalam menghadapi berbagai potensi bencana.
“Harapan kita sederhana, ketika ada persoalan di Wajok, jangan sampai informasi terlambat. Kita ingin masyarakat bisa saling mengingatkan, saling membantu dan saling menguatkan. Karena dalam persoalan kemanusiaan, yang paling penting adalah kebersamaan,” pungkasnya.






