Pontianak, Penakalbar.com– Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IV dan peringatan Hari Ulang Tahun ke-3 Lembaga Perempuan Dayak Nasional (LPDN) menjadi momentum untuk memperkuat peran perempuan Dayak dalam pembangunan, pemberdayaan keluarga, hingga pelestarian budaya.

Kegiatan yang berlangsung di Rumah Radakng Pontianak, Jumat (14/8), dibuka oleh Asisten I Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Y. Anthonius R, yang mewakili Gubernur Kalimantan Barat. Pembukaan ditandai dengan pemukulan gong.

Turut hadir Ketua I Bidang Pembinaan Karakter Keluarga TP PKK Provinsi Kalimantan Barat sekaligus Pembina LPD Kalbar, Donata Dirasig Krisantus Kurniawan, Ketua Umum LPDN Nyelong Inga Simon, jajaran pengurus LPD Kalbar, unsur Forkopimda, serta sejumlah organisasi masyarakat.

Dalam sambutannya, Anthonius menyampaikan ucapan selamat atas hari jadi ke-3 LPDN. Ia menilai organisasi tersebut telah menunjukkan kontribusi dalam memperkuat posisi perempuan Dayak sekaligus menjaga nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

“Atas nama Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, saya menyampaikan selamat ulang tahun yang ke-3 kepada Lembaga Perempuan Dayak Nasional. Tiga tahun memang masih muda, tetapi sudah menjadi bagian penting dalam perjalanan untuk memperkuat peran perempuan Dayak,” kata Anthonius.

Menurut dia, perempuan memiliki posisi strategis dalam kehidupan masyarakat. Peran perempuan tidak hanya sebagai penerima manfaat pembangunan, tetapi juga sebagai penggerak perubahan, pendidik keluarga, pengambil keputusan, dan penjaga budaya.

“Perempuan bukan hanya sebagai penerima manfaat pembangunan. Perempuan juga menjadi penggerak, pendidik generasi, bahkan menjadi salah satu penjaga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal,” ujarnya.

Anthonius mengatakan perkembangan zaman yang semakin cepat tidak boleh menghilangkan identitas budaya masyarakat Dayak. Karena itu, perempuan Dayak dinilai memiliki tanggung jawab penting untuk menjaga nilai-nilai budaya agar tetap hidup di tengah modernisasi.

Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui cerita atau dokumentasi semata, tetapi harus diwujudkan dalam praktik kehidupan sehari-hari dan diwariskan kepada generasi muda.

“Budaya tidak akan hidup hanya karena diwariskan melalui cerita. Budaya harus terus dipraktikkan, ditanamkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.

Ia berharap LPDN dapat menjadi wadah yang mendorong peningkatan kapasitas perempuan, memperkuat kemandirian ekonomi, meningkatkan akses pendidikan, serta menjaga ketahanan keluarga dan budaya masyarakat Dayak.

Selain itu, Anthonius berharap Rakernas IV LPDN tidak hanya menjadi forum evaluasi dan penyusunan program kerja, tetapi juga mampu menghasilkan langkah konkret yang memberikan dampak langsung kepada masyarakat.

“Rakernas ini jangan hanya menjadi forum untuk mengevaluasi kegiatan atau menyusun program. Jadikan momentum ini untuk menyatukan gagasan, memperkuat jaringan dan menghasilkan langkah konkret,” ujarnya.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, kata dia, mendukung berbagai program yang dijalankan LPDN, terutama yang berkaitan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, pemberdayaan ekonomi perempuan, pengembangan UMKM, pemanfaatan teknologi digital, hingga perlindungan perempuan dan anak.

Sementara itu, Donata Dirasig Krisantus Kurniawan mengatakan Rakernas IV menjadi kesempatan bagi seluruh pengurus untuk mengevaluasi program yang telah berjalan sekaligus menyusun langkah organisasi ke depan.

“Rakernas ini menjadi momentum untuk kita bersama-sama melihat apa yang sudah dilakukan selama ini, kemudian menyusun langkah ke depan agar keberadaan LPDN semakin memberikan manfaat bagi perempuan, keluarga dan masyarakat,” kata Donata.

Ia berharap seluruh program yang dirumuskan dalam Rakernas dapat diwujudkan dalam bentuk kegiatan nyata yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, bukan hanya berhenti pada dokumen perencanaan.

Menurut Donata, perempuan Dayak memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam pembangunan daerah dengan tetap menjaga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang menjadi identitas masyarakat Dayak.

“Perempuan Dayak harus terus maju, tetapi tetap membawa nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Kita ingin perempuan semakin mandiri, semakin percaya diri, dan mampu mengambil peran dalam pembangunan,” ujarnya.

Donata juga mengajak seluruh pengurus dan anggota LPDN untuk memperkuat kebersamaan serta memperluas kerja sama dengan berbagai pihak demi memperkuat organisasi dan manfaatnya bagi masyarakat.

Selain Rakernas IV dan peringatan HUT ke-3 LPDN, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan pengukuhan Lembaga Perempuan Dayak (LPD) tingkat kabupaten dan kota se-Kalimantan Barat.

Pengukuhan itu diharapkan semakin memperkuat peran organisasi hingga ke daerah sehingga program pemberdayaan perempuan Dayak dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas dan berkelanjutan.

Bagikan: